About Wilayah Studi

Latar Belakang 

Sebagai kawasan yang terletak di perbatasan Kota Semarang dan Kabupaten Demak, Desa Batursari memiliki potensi yang cukup besar untuk dikedmbangkan dalam berbagai bidang yang mampu mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakatnya. Salah satunya dikembangan menjadi Kawasan Perumahan yang layak huni bagi masyarakat. Perumahan  tersebut yaitu perumnas Pucang Gading yang menjadi Katalisator Desa Batursari sendiri. Seiring dengan munculnya potensi yang bervariasi, permasalahan juga menjadi suatu hal yang penting untuk disoroti lebih jauh karena mampu memerikan pengaruh negatif terhadap kawasan Perumnas Pucang Gading dan pada umunya Desa Batursari.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi Wilayah study di Desa Batursari khusunya Perumnas Pucang Gading RW XXVI dan XII adalah lokasi kedua RW ini yang mudah diakses karena terletak di sepanjang jalan Utama. Selain itu di kedua RW tersebut juga terdapat kelengkapan sarana dan prasarana yang mampu menunjang aktivitas masyarakat. Namun, bukan berarti di kawasan kedua RW tersebut tidak memiliki ketimpangan yang sangat terlihat jelas pada pengoptimalan fungsi sarananya. Pada kawasan perdagangan memiliki RTH yang minim padahal terletak disepanjang jalan atama, sedangkan RTH yang ada di kawasan perumahan mampu menjadikan kawasan tinggal masyarakat tersebut asri dan sejuk. Selain RTH drainase yang kurang lancar di sepanjang kawasan perdagangan menjadikan jalan utama kerap kali banjir apabila hujan lebat.

Perancangan kota adalah merupakan bagian dari proses perencanaan yang berhubungan dengan perancangan fisik dan ruang suatu lingkungan, sehingga perancangan kota merupakan jembatan antara perencanaan kota dan perancangan arsitektural karena dalam proses perancangan kota akan dilakukan suatu bentu penataan tiga dimensi sebuah ruang kota agar terwujud wajah kota dan citra kota yang diinginkan sesuai dengan karakteristik kawasan, sehingga terjadi keserasian tatanan fisik ruang dan tampilan fisik kawasan.

Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan perancangan permukiman yang dapat mengatasi permasalahan di Perumnas Pucang Gading. High Quality Services for Better Living merupakan sebuah konsep yang tepat untuk di terapkan di wilayah studi, mengingat kawasan ini memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang sangat mampu menunjang kegiatan masyarakat. Dalam konsep ini akan dilakukan pengoptimalan funsgi sarana dan prasarana yang sudah ada, agar kawasan Perumnas Pucang Gading khusunya RW XXVI dan RW XII mampu menjadi katalis bagi Desa Batursari. Namun, dalam penerapan konsep ini akan dilakukan integrasi dengan RTH agar perumahan terlihat asri dan hijau, seperti akan dilakukan pembangunan taman di beberapa titik kawasan. Dengan adanya konsep ini semoga memberikan dampak positif pada pertumbuhan dan perkembangan Perumnas Pucang Gading secara umum.

Alasan Pemilihan Perumnas Pucang Gading sebagai Wilayah Studi Perancangan

RW XII dan RW XXVI merupakan wilayah Perumnas Pucang Gading yang langsung berbatasan dengan Kota Semarang. Di kawasan perumahan ini telah tersedia dengan lengkap berbagai fasilitas penunjang aktivitas masyarakat seperti kawasan perdagangan yang berpusat di sepanjang Jalan Pucang Gading Raya, kawasan pendidikan terpadu, fasilitas olahraga, peribadatan, transportasi, dan kesehatan. Semua fasilitas tersebut merupakan fasilitas dengan tingkat pelayanan hingga setingkat Desa Batursari, sehingga dapat dikatakan di RW XII dan XXVI merupakan pusat kegiatan di Desa Batursari. Perumnas ini secara umum telah mampu menjadi generator bagi perkembangan Desa Batursari, khususnya dalam peningkatan kelayakan sarana dan prasarana di desa tersebut.

Seiring dengan perkembangan dan kelengkapan sarana dan prasarana di RW ini juga timbul permasalahan-permasalahan yang menjadi kendala perkembangan kawasan serta dapat mengancam keberlanjutan perumahan ini. Penggunaan lahan yang mix use serta didorong dengan tingginya permintaan akan tempat tinggal yang dekat dengan akses ke pelayanan fasilitas umum menjadikan kawasan ini semakin padat. Kualitas-kualitas infrastruktur semakin berkurang dan berpotensi akan terjadinya urban sprawl yang tidak terkendali. Fasilitas yang semakin tidak terawat dan ketidakseimbangan antara supply dan demand mengakibatkan  kesemrawutan sistem aktivitas yang terjadi di dalamnya. Penurunan kualitas sarana dan prasarana ini juga menjadikan kenyamanan hidup penduduk terganggu, dan semakin lama dapat menurunkan image kawasan. Oleh karena itu, diperlukan suatu perancangan ulang kawasan serta menambahkan fungsi urban catalyst sesuai dengan konsep High Quality Services for Better Living sebagai pendorong perkembangan kawasan perumahan ke arah yang lebih baik.

Gambaran Umum Perumnas Pucang Gading

Wilayah studi mikro yang akan dijadikan sebagai wilayah perancangan untuk jangka waktu 20 tahun (2012-2032) sebesar ±24 Ha terletak di Perumahan Pucang Gading, meliputi RW XII dan XXVI. Batas-batas RW XII dan XXVI adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara       : Sungai Babon dan Ladang Desa Batursari

Sebelah Timur      : RW 25 dan RW 13 (Perumnas Pucang Gading)

Sebelah Selatan   : Perbukitan (Taman Toga)

Sebelah Barat       : Sungai Babon

 

Perumnas ini memiliki lokasi yang sangat strategis, yaitu berbatasan langsung dengan Kota Semarang, sehingga sangat diminati oleh para komuter yang sehari-hari bekerja di Kota Semarang. Fasilitas yang disediakan juga sudah sangat lengkap, seperti sarana pendidikan mulai dari TK hingga SMA, sarana kesehatan yaitu puskesmas, apotek, dan praktek dokter, sarana peribadatan yaitu musholla dan masjid, sarana rekreasi yaitu lapangan dan taman bermain, sarana perdagangan baik formal maupun informal yang terletak di sepanjang Jalan Pucang Gading Raya, hingga sarana transportasi meliputi angkutan umum beserta subterminal Tipe C. Selain itu, di kawasan perumahan ini dilengkapi dengan hutan di bagian selatan yang dapat sekaligus difungsikan sebagai peresapan air hujan.

Untuk karakteristik huniannya, seluruh penduduk telah melakukan renovasi terhadap masing-masing rumah hingga KDB 70-80%, sehingga rumah yang seharusnya bertipe 21 menjadi bertipe 70, sedangkan yang seharusnya bertipe 45 menjadi bertipe 95. Namun, masing-masing penghuni telah menyediakan ruang hijau dengan cara menanam tanaman di pot-pot halaman rumah.

Penyediaan prasarana dasar di wilayah studi sudah lengkap, namun kualitasnya masih belum memadai. Air bersih sudah disupplai oleh PDAM, namun kualitasnya kurang layak untuk dikonsumsi karena mengandung kapur, sehingga penduduk harus membeli air bersih yang dijual oleh gerobak keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dalam hal pemenuhan kebutuhan listrik, seluruh rumah sudah dilayani oleh PLN, namun kekurangannya adalah sering dilakukan pemadaman bergilir sehingga menganggu aktivitas sehari-hari. Sehari-hari penduduk mengelola sampah dengan cara ditampung di bak sampah depan rumah, kemudian oleh tukang sampah diangkut dan dibuang ke TPS yang berlokasi di bagian belakang terminal, namun kondisi TPS tersebut kurang layak dan banyak sampah bercecer. Untuk sistem drainase di dalam lingkungan hunian sudah baik, hanya saja di kawasan komersial drainase sering tersumbat akibat adanya perkerasan yang menutupi saluran drainase. Saat musim hujan kawasan komersial ini sering tergenang dan mengakibatkan jalan utama rusak.

Jumlah penduduk di RW kawasan perancangan RW XII dan XXVI adalah 2700 jiwa dengan jumlah KK 675. Rata-rata lama tinggal penduduk di wilayah ini adalah 15 tahun. Mayoritas adalah penduduk pendatang dari Semarang, Solo, Sragen, Boyolali, dll. Kepadatan penduduknya adalah 84 jiwa per Ha. Penduduknya mayoritas beragama Islam dengan jumlah sekitar 95% dari total jumlah penduduk, sedangkan sisasnya adalah penduduk Kristen dan Katholik.

Aktivitas utama yang terjadi di kawasan perancangan RW XII dan XXVI berupa aktivitas bermukim yang dikelola oleh PT Perum Perumnas. Kepadatan bangunan yang ada dikategorikan sebagai kepadatan bangunan yang tinggi, sehingga terdapat aktivitas masyarakat yang besar. Aktivitas permukiman tersebut memunculkan keberadaan aktivitas lainnya seperti aktivitas sosial, keagamaan, pendidikan, perdagangan, kesehatan, dan keamanan. Aktivitas sosial yang ada berupa kegiatan kerja bakti, kumpul rembug RT/RW, serta arisan ibu-ibu. Kegiatan keagamaan yang muncul yaitu pengajian rutin dan perayaan hari besar keagamaan. Lokasi-lokasi aktivitas warga biasanya di rumah-rumah ataupun di lapangan yang paling dekat denga lingkungan tempat tinggal mereka. Aktivitas-aktivitas sosial tersebut lebih banyak diadakan sore hari saat mayoritas warga pulang dari bekerja.

Aktivitas lain yang muncul sebagai dampak dari keberadaan perumahan padat ini adalah aktivitas perdagangan yang berpusat di sepanjang Jalan Pucang Gading Raya. Kegiatan perdagangan tersebut tidak hanya melayani penduduk Perumnas Pucang Gading saja, melainkan juga penduduk asli Desa Batursari. Jenis perdagangan yang dijual berupa bahan makanan, kuliner, hingga jasa-jasa yang memang dibutuhkan oleh penduduk sekitar.

Potensi Perumahan Pucang Gading

Memiliki Topografi Datar

Kawasan perancangan RW XII dan XXVI memiliki kondisi topografi yang datar. Hal tersebut menjadi potensi untuk pengembangan permukiman, terutama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan akan infrastruktur yang saat ini belum terlayani secara maksimal. Kawasan dengan topografi datar memiliki keunggulan dalam kemudahan pembangunan serta penghematan biaya pembangunan. Waktu pengerjaan pengembangan perumahan juga dapat diselesaikan dalam waktu singkat karena distribusi material bangunan dapat berjalan dengan lancar.

Terdapat Kawasan Perdagangan dan Jasa

Kawasan perdagangan dan jasa berpusat di sepanjang Jalan Pucang Gading Raya. Awalnya kawasan ini bukan merupakan kawasan yang disediakan oleh pihak pengembang Perumnas Pucang Gading sebagai kawasan perdagangan. Kawasan perdagangan muncul dengan sendirinya, terutama dipelopori oleh pemilik rumah yang berlokasi berada di jalan utama tersebut. Mereka mengubah rumah tinggalnya menjadi usaha perdagangan, baik yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari maupun makanan. Lama-kelamaan potensi ini dilirik oleh para developer untk dibangun beberapa unit ruko. Hingga akhirnya tumbuh berjejer toko-toko, warung, dan minimarket yang berdiri di kawasan ini. Kawasan perdagangan inilah yang menjadi salah satu pendorong cepatnya perkembangan permukiman di Desa Batursari. Dengan adanya potensi bisnis perdagangan tersebut, dapat menarik investor untuk menanam investasi sekaligus penataan kawasan agar lebih memiliki daya tarik.

Terdapat Terminal

Keberadaan terminal di suatu daerah sebenanrnya dapat menjadi salah satu pendorong berkembangnya kawasan. Terminal sebagai tempat untuk perpindahan moda banyak dikunjungi oleh penduduk dari berbagai daerah, sehingga secara tidak langsung daerah ini akan cepat dikenal, apalagi bila daerah tersebut memiliki potensi yang menarik. Seperti halnya Pucang Gading yang memiliki potensi menarik berupa kawasan perumahan dengan segala kelengkapan fasilitasnya. Apabila terminal tersebut dapat difungsikan kembali, maka kawasan akan lebih cepat berkembang, serta kemudahan untuk mendapatkan akses pelayanan transportasi umum semakin baik.

Permasalahan Perumahan Pucang Gading

Lingkungan Gersang

Keberadaan jalur alternatif penghubung  Kota Semarang dengan Desa Batursari  tentunya menjadi salah satu kontributor terjadinya polusi atau pencemaran. Hal itu dikarenakan volume kendaraan yang melintas di cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan tingkat mobilitas tinggi sehingga resiko akan pencemaran pun juga tinggi. Polusi udara disebabkan karena asap kendaraan yang melintas. Keadaan seperti ini sangat mengganggu sistem permukiman yang ada di sekitarnya, karena asap buangan dari kendaraan dapat mengurangi kesehatan pernafasan masyarakat sekitar. Apalagi, di sekitar kawasan jalur utama tersebut minim akan penghijauan, disertai dengan aktivitas bongkar muat truk pengangkut barang perdagangan menyebabkan udara menjadi sangat berdebu dan gersang.

Genangan Air Hujan di Koridor Jalan Pucang Gading Raya

Kepadatan bangunan yang tinggi di RW XII dan XXVI menjadikan penyediaan open space berkurang. Hal ini menjadi salah satu pemicu munculnya permasalahan genanan air hujan terutama saat hujan deras tiba. Ditambah lagi dengan kondisi drainase yang yang kecil dan tidak mampu menampung limpasan air yang berasal dari daerah bertopografi lebih tinggi. Perencanaan drainase yang dilakukan oleh pengembang sebenarnya bertipe terbuka. Namun, banyak pemilik usaha perdagangan yang melakukan penutupan permukaan drainase menjadi tertutup dan permanen. Sehingga, sulit dilakukan pembersihan sampah-sampah yang menyumbat saluran air. Saluran yang tersumbat menjadikan air hujan meluap dan terjadi genangan. Kondisi genangan air hujan ini turut menghambat aktivitas perdagangan yang berpusat di sekitarnya. Selain itu, genangan air ini juga merusak infrastruktur jalan yang terbuat dari paving. Akibatnya, aksesibilitas terhambat.

Minimnya Fasilitas di Ruang Publik

Meskipun di tiap RW telah memiliki fasilitas publik space, namun kondisi fasilitas seperti tempat duduk, tempat bermain, maupun penataannya masih kurang menarik. Akibatnya banyak masyarakat yang enggan menjadikan ruang publik tersebut sebagai lokasi utama untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Kurangnya interaksi antara penduduk perumahan menyebabkan tingginya sifat individualisme serta gengsi. Ruang-ruang publik dan fasilitas umum yang semakin lama semakin tidak diminati menjadi berubah fungsi lain dan semakin ditinggalkan. Sebagai contoh adalah lapangan yang mulai bermunculan PKL liar serta muncul aktivitas baru yaitu untuk tempat pertunjukan hewan peliharaan burung.

Selain kurangnya fasilitas di ruang-ruang publik, di wilayah studi juga masih kurang ruang untuk anak-anak. Di perumahan mayoritas adalah keluarga muda yang baru tinggal dan memiliki satu atau dua orang anak, sehingga ruang untuk bermain sangat dibutuhkan. Pada kondisi eksisting hanya ada satu tempat bermain anak lengkap dengan area bermain yaitu di RW XXVI, sehingga diperlukan penyediaan sarana bermain anak yang lebih banyak lagi.

Kondisi TPS Tidak Layak

TPS Perumahan Pucang Gading berlokasi di belakang terminal Pucang Gading. Awalnya TPS ini masih dapat menampung sampah-sampah yang dihasilkan oleh penduduk sekitar. Namun, akibat dari manajemen pengelolaan sampah yang kurang terjadwal dan terkelola dengan baik, volume sampah yang semakin banyak tidak terangkut secara keseluruhan menuju ke TPA, sehingga mengakibatkan tingginya penumpukan sampah dan meluasnya areal penumpukan sampah hingga ke dekat rumah warga dan sekolahan, sehingga menyebabkan polusi dan terganggunya kenyamanan penduduk dalam melakukan aktivitas. Menurut hasil wawancara dengan mantan RW XXVI, truk sampah yang beroperasi di TPS ini hanya dilayani oleh sebuah truk sampah yang setiap harinya mengangkut sampah menuju TPA. Namun, kapasitas truk tidak sebanding dengan volume sampah yang muncul, sehingga masih terdapat sampah yang tidak terangkut dan menyebabkan penimbunan sampah.

Tidak Ada Pedestrian

Sepanjang koridor Jalan Pucang Gading Raya tidak memiliki pedestrian, padahal di kanan kiri berjejer pertokoan dengan aktvitas transportasi yang cukup tinggi. Orang-orang yang berjalan di sepanjang kawasan perdagangan ini berjalan di bahu jalan, sehingga faktor keselamatan menjadi terancam. Tidak adanya pedestrian ini juga menyababkan penataan bangunan kawasan perdagangan menjadi semrawut. Apalagi ditambah dengan penataan parkir yang buruk sehingga semakin memperburuk pandangan.

Kurangnya Lahan Parkir

Perparkiran merupakan suatu sarana penampungan populasi kendaraan bermotor (khususnya kendaraan pribadi) pada suatu area tertentu. Berdasarkan karakteristik kawasan, area perparkiran disyaratkan terdapat di area pusat perdagangan dan pusat perkantoran. Hal ini bertujuan untuk mempermudah para pengunjung dalam menempatkan kendaraannya. Di kawasan perdagangan Perumnas Pucang Gading belum terdapat area parkir yang memadai, sehingga banyak kendaraan memanfaatkan trotoar yang seharusnya digunakan sebagai pejalan kaki untuk dijadikan tempat parkir. Kondisi parkir on street ini juga belum tertata rapi, sehingga mengganggu pemandangan dan estetis kawasan. Untuk lahan parkir kendaraan roda empat juga banyak memanfaatkan jalan utama hingga memakan badan jalan hingga 1 meter. Banyaknya kendaraan yang memarkirkan kendaraan di badan jalan di sekitar perdagangan menyebabkan arus lalu lintas di kawasan ini tersendat. Aspek keselamatan pengguna jalan menjadi berkurang karena banyak kendaraan berlalu-lalang untuk melakukan aktivitas perdagangan, namun pandangan terhalangi oleh mobil-mobil yang parkir di pinggir jalan.

Air Bersih Tidak Layak

Penduduk perumahan Pucang Gading sebenarnya telah dilayani oleh air bersih dari PDAM. Namun, kondisi air tersebut kurang layak untuk dikonsumsi karena mengandung kadar kapur yang tinggi. Pemanfaatan air PDAM hanya sebatas untuk kebutuhan non-konsumsi seperti mencuci, mandi, dan menyiram tanaman. Kondisi tersebut memaksa warga harus mengeluarkan uang ekstra untuk membeli air bersih yang layak dikonsumsi pada penjual air minum keliling setiap harinya.

Menurut hasil wawancara dengan bagian produksi dari Perum Perumnas, awal perencanaan penyediaan air bersih untuk kawasan perumahan ini bersumber dari mata air Gunung Ungaran. Air bersih Gunung Ungaran dikenal memiliki kualitas air yang baik dan layak konsumsi. Namun, terjadi ketidaksesuaian antara perencanaan awal tersebut dengan implementasi di lapangan. PDAM tidak menyediakan sumber air bersih yang berasal dari Gunung Ungaran, melainkan berasal dari sumber lain yang tidak layak dan mengandung kapur. Hingga saat ini belum ada upaya pemenuhan kebutuhan air bersih PDAM yang lebih layak. Sehingga masyarakat harus tetap membeli air bersih untuk kebutuhan konsumsi.

Pelayanan Listrik Kurang Maksimal

Warga perumnas Pucang Gading sudah sangat terbiasa dengan adanya pemadaman listrik bergilir. Dalam seminggu, pemadaman listrik dilakukan sebanyak 4 hingga 5 hari dalam durasi yang lama. Saat pemadaman listrik terjadi, tentu saja aktivitas masyarakat sangat terganggu. Misalnya di kawasan perdagangan, aktivitas jual-beli makanan terhenti karena alat yang dibutuhkan untuk membuat pesanan tidak dapat digunakan karena tidak tersalur listrik. Aktivitas lain juga terganggu seperti kegiatan mencari hiburan (televisi dan media hiburan elektronik lainnya), kegiatan rumah tangga seperti menyetrika dan membersihkan rumah juga turut terhenti. Penurunan voltase listrik juga menjadi salah satu fenomena yang sering terjadi. Hal ini mengakibatkan lampu sering redup dan dapat merusak barang-barang elektronik milik warga.

Terminal Tidak Berfungsi

Terdapatnya subterminal Tipe C Pucang Gading di kawasan perumnas ini seharusnya dapat menjadi salah satu potensi yang dapat menjadikan kawasan ini semakin berkembang cepat. Aktivitas perpindahan moda transportasi umum para penumpang, terutama yang berasal dari luar daerah menjadikan kawasan ini semakin dikenal, dan dapat menarik orang untuk melakukan aktivitas di dalam kawasan ini, misalnya untuk mendirikan bisnis usaha. Namun, semenjak dibangun dan diresmikan sekitar tahun 2008, terminal ini tidak berfungsi sama sekali. Kios-kios di dalam terminal menjadi mangkrak dan cenderung digunakan sebagai aktivitas yang tidak terpuji. Kondisi jalan yang berasal dari tanah menimbulkan genangan air saat hujan serta becek. Akses terminal yang seharusnya pintu masuk direncanakan melewati jalan lingkungan selebar 10 meter di samping puskesmas, namun tidak terlaksana karena melalui perumahan warga, sehingga dikhawatirkan menimbulkan kebisingan yang tinggi.Hanya terdapat satu akses keluar masuk untuk angkutan umum berupa bus kota dan angutan umum pedesaan yaitu jalan selebar 12 meter di bagian timur terminal. Namun, bus kota seperti Bus Damri hanya bersedia berhenti di pintu keluar tersebut tanpa masuk ke terminal.

Berdasarkan wawancara yang diperoleh, mangkraknya terminal dikarenakan penumpang tidak bersedia menunggu angkutan di dalam terminal, mereka lebih senang naik dan turun angkutan di luar terminal. Kondisi tersebut juga menyebabkan mobil angkutan umum banyak yang mangkal di tepi-tepi jalan menunggu penumpang. Angkutan umum yang parkir di tepi jalan tersebut turut mengurangi area publik untuk pejalan kaki dan lahan parkir bagi pengunjung kawasan perdagangan.

Berdasarkan RDTRK Kecamatan Demak, angkutan perkotaan dan pedesaan ke Kecamatan Demak diprediksi mengalami peningkatan dalam hal jumlah angkutan dan penambahan trayek angkutan sehingga Kawasan Perkotaan Mranggen ke depan merupakan tempat pemberhentian untuk pergantian moda angkutan, tidak hanya menjadi perlintasan moda angkutan regional yang berasal dari Semarang maupun Purwodadi. Sebagai penunjang kelancaran pergerakan tersebut, diperlukan adanya peningkatan terminal tipe C di Kawasan Perkotaan Mranggen dan Kota Pucanggading untuk menampung moda angkutan umum dan penumpang angkutan umum. Namun, pada kenyataannya terminal di Pucang Gading tidak berfungsi secara optimal, sehingga perlu dilakukan upaya pemfungsian kembali agar dapat menunjang kelancaran pergerakan penduduk di sekitar perumnas Pucang Gading, dan Kecamatan Mranggen pada umumnya.

Kurangnya Partisipasi Pemerintah

Kurangnya partisipasi pemerintah dalam pengelolaan permukiman di Perumnas Pucang Gading dibuktikan dengan lambatnya penanganan atau perbaikan kondisi jalan rusak. Jalan Raya Pucang Gading merupakan jalan alternatif berkelas lokal primer penghubung Kota Semarang dengan Kecamatan Mranggen bagian selatan, sehingga wewenang dan tanggung jawab mengenai pengelolaan dan perbaikan sepenuhnya ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Demak. Namun, dikarenakan keterbatasan sumber daya, maka penanganan terhadap permasalahan tersebut menjadi tersendat dan lambat.

Kebijakan Mengenai Perumahan Kurang Tegas

Penegakan peraturan tentang standar pembangunan rumah di kawasan ini kurang tegas. Meskipun telah diberlakukan peraturan koefisien dasar bangunan maksimal 60%, namun sebagian besar rumah di perumahan Pucang Gading telah merenovasi dan membangun rumahnya hingga 80% perkerasan. Tingginya KDB eksisting di kawasan ini menjadikan kurangnya ruang terbuka hijau di lingkungan permukiman. Akibatnya lingkungan yang gersang dan udara yang panas menjadi salah satu faktor berkurangnya kenyamanan hidup di perumahan ini. Selain itu, berkurangnya resapan air dapat menjadi salah satu sumber penyebab banjir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: